Jumat, 14 Desember 2012

MANAJEMEN KEUANGAN DALAM AGRIBISNIS

  1. Fungsi Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan. Aspek manajemen keuangan mempertimbangkan akibat dari seluruh keputusan terhadap  penerimaan dan laba perusahaan dibidang agribisnis. Artinya manajer dalam  hal ini harus mempertimbangkan seluruh sumber pembiayaan dari aspek penerimaan. Dalam bahasa yang umum bidang ini mempertimbangkan kesehatan perusahaan. Peralatan seperti neraca dan rugi laba adalah  perangkat yang umum digunakan sebagai alat analisis dalam menentukan kemampulabaan perusahaan. Fungsi manajemen keuangan dapat di golongkan menjadi tiga aktivitas, yaitu:
1.      Aktivitas penggunaan dana
Kalau kita melihat posisi keuangan perusahaan pada satu periode (Neraca) maka jelaslah bahwa:
a.       Dana yang diperoleh perusahaan pertama-tama berasal dari investor/pemilik, dan dinamakan modal. Selain itu dana diperoleh juga dari kreditur, yang dinamakan utang. Jadi sisi kredit pada Neraca menyatakan sumber dana pada satu saat.
b.      Dana yang dimiliki perusahaan, baik dari investor maupun kreditur dipergunakan untuk memiliki tanah, gedung, peralatan kantor, barang dagangan, untuk bisa memberi kredit (piutang) dan mempunyai uang kas secukupnya untuk keperluan sehari-hari. Jadi dana digunakan untuk memiliki harta perusahaan (penggunaan dana).
Sehingga jelaslah bahwa seorang manajer keuangan bertanggung jawab akan:
a.       Keputusan Pembelanjaan.
Yaitu keputusan-keputusan yang harus diambil berkenaan dengan sumber dana yang dibutuhkan perusahaan, dengan mengingat agar resiko keuangan yang dihadapi minimal.
b.      Keputusan Investasi.
Yang berkaitan dengan pengaturan penggunaan dana agar resiko usaha yang dihadapi minimal (investasi di sini tak hanya meliputi harta tetap, namun juga harta lancar).
c.       Keputusan Operasi.
Yaitu bagaimana dana yang diperlukan perusahaan dapat terpenuhi (LIKUIDITAS) dan bagaimana dana tersebut dioperasikan untuk mencapai sasaran perusahaan (profitabilitas)
Jadi untuk mengetahui dari mana saja Sumber Dana perusahaan berasal dan untuk apa saja dana dipergunakan (Penggunaan Dana) selama satu periode, kita bisa melihatnya dengan membandingkan neraca awal periode dengan neraca pada akhir periode.
Sumber dana dapat di peroleh dari:
·         Laba.
·         Tambahan mobal.
·         Tambahan utang.
·         Penyusutan dan lain-lain biaya non kas.
·         Pengurangan harta lancar. 
·         Penjualan harta tetap.
Penggunaan dana adalah transaksi-transaksi yang menyebabkan:
·         Kerugian.
·         Pembagian Deviden.
·         Berkurangnya modal.
·         Berkurangnya utang.
·         Bertambahnya harta lancar. 
·         Bertambahnya harta tetap.
Apabila dana jangka pendek dibelanjai oleh sumber dana jangka panjang, yaitu dengan:
1.        Utang jangka panjang
Maka bisa menimbulkan dana menganggur (idle), sehingga biaya modal meningkat.
2.        Menjual sebagian harta tetap.
Maka akan menganggu operasional perusahaan.
3.        Menambah modal dari investor.
Hal ini akan mengakibatkan pembagian deviden meningkat. Begitu juga sebaliknya apabila kebutuhan dana jangka panjang dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek akan berpengaruh, kita ambil contoh yaitu dengan menambah utang jangka pendek maka akan berakibat antara lain nantinya akan timbul gali lobang tutup lobang dan disamping itu biaya pinjaman atau bunga tinggi karena pinjamannya jangka pendek.
( Riyanto, 2010)

2.      Aktivitas mendapatkan dana
Keputusan yang berkaitan dengan bagaimana mendapatkan dana yang akan digunakan untuk memperoleh aktiva riil yang diperlukan. Dalam teori keuangan perusahaan (the theory of corporate finance) yang membahas tentang keputusan keuangan (financial decisions) selalu berasumsi bahwa pasar modal bersifat sempurna. Konsekuensinya antara keputusan pembelanjaan (financing decisions) dan keputusan investasi (investasi decisions) menjadi independent. Dalam kenyataannya bahwa asumsi tersebut tidak sepenuhnya berlaku di Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah, dimana saat kita merancang suatu keputusan investasi kita sudah berpikir tentang darimana dana yang akan digunakan untuk membiayai investasi itu. Demikian pula sebaliknya bahwa saat kita merancang struktur keuangan (financial structure) dan struktur modal (capital structure) tidak jarang bahwa pada saat itu juga kita berpikir tentang maksimalisasi tingkat keuntungan yang diharapkan (expected rate of return).
Dalam perusahaan manufaktur yang memiliki aktiva nyata (real assets), maka analisis awal tetuju pada memaksimumkan Net Present Value (NPV) yang akan memposisikan perusahaan untuk mampu memaksimumkan kekayaan pemegang saham (to maximizing tje walth of it stockholders). Setelah alternatif investasi siap, maka tahap berikutnya tertuju pada upaya menggali sumber dana (sources of fund decisions) seperti penciptaan berbagai instrumen dipasar keuangan (financial market), baik di pasar modal (capital market) dan pasar uang (money market) maupun penggalian dana pihak ketiga. Sementara bagi perusahaan keuangan yang terlebih dahulu dipikirkan adalah keputusan struktur kekayaan, bahkan struktur modal, yang mampu meminimumkan biaya dana (cost of fund) yang pada gilirannya akan mendorong kenaikan NPV perusahaan.
Prinsip-prinsip pembelanjaan sebagai pedoman dan dasar untuk operasional perusahaan.


a.       Asas Liquiditas
Asas yang mengajarkan bahwa dalam kebijakan financing penarikan sumber-sumber dana harus diperhatikan berapa lamanya dana yang akan diperoleh akan digunakan oleh perusahaan apabila dana tersebut akan digunakan selama 1 tahun, maka dana yang akan ditarik juga untuk jangka waktu kurang dan tidak lebih dari 1 tahun. dalam hal ini dikenal dengan Maturity Matching Principle, berdasarkan asas ini :
- Mo. kerja variable dibelanjai dengan pinjaman jangka pendek.
- Mo. kerja permanen dibelanjai dengan Mo. sendiri.
- Mo. aktiva tetap harus dibelanjai dengan hutang jangka panjang (kecuali tanah harus dengan Mo. sendiri).
b.      Asas Solvabilitas
Asas yang mengajarkan bahwa dalam memperoleh sumber dana harus diperhatikan faktor psikologi dali calon investor:
- Optimis, sebaiknya perusahaan mengeluarkan saham.
- Pesimis, sebaiknya perusahaan mengeluarkan obliges.i
c.       Asas Rentabilitas
Asas yang mengajarkan bahwa dalam penarikan sumber-sumber dana harus memperhatikan konsekuensi kewajiban memberikan balas jasa dari perusahaan ke calon investor.
d.      Asas Kekuasaan
Asas yang mengajarkan bahwa dalam kebijakan financing harus memperhatikan kebijakan manajemen keuangan:
- bila manajemen tidak ingin dicampuri pihak luar, sebaiknya perusahaan mengeluarkan obligasi.
- bila manajemen lebih banyak menghendaki campur tangan pihak luar maka dapat dikeluarkan saham.


B.     Review Analisis Keuangan Kelapa Sawit
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak kelapa sawit (CPO- crude palm oil) dan inti kelapa sawit (CPO) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non-migas bagi Indonesia.  Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Selama 14 tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 2,35 juta ha, yaitu dari 606.780 ha pada tahun 1986 menjadi hampir 3 juta ha pada tahun 1999.  Gambar 1 memperlihatkan erkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia dari tahun 1985-1999. Areal perkebunan kelapa sawit milik perusahaan swasta, mengalami pertumbuhan yang paling tinggi.


Seiring dengan bertambahnya luas perkebunan kelapa sawit, total produksi minyak kelapa sawit Indonesia meningkat tajam, yaitu dari 1,71 juta ton pada tahun 1988 menjadi 5,38 juta ton pada tahun 1997.  Pada tahun 1998, sehubungan dengan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, produksi minyak sawit turun menjadi 5 juta ton. Namun demikian, pada tahun 1999 produksinya kembali meningkat menjadi 5,66 juta ton.  Nilai ekspor minyak sawit tertinggi dicapai pada tahun 1997, yaitu sebesar US$ 1,4 milyar, kemudian turun menjadi US$ 745 juta pada tahun 1998 (lihat Gambar 2). Penurunan nilai ekspor ini terutama disebabkan oleh kebijakan larangan ekspor CPO dan/atau pengenaan pajak ekspor CPO yang sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan permintaan minyak kelapa sawit di dalam negeri.
Berkembangnya sub-sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif. Terutama kemudahan dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan rakyat dengan pola PIR-Bun dan dalam perijinan pembukaan wilayah baru untuk areal perkebunan besar swasta. Pada tahun 1996, pemerintahan Suharto merencanakan untuk mengalahkan Malaysia sebagai eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan cara menambah luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia dua kali lipat, yaitu menjadi 5,5 juta hektar pada tahun 2000.  Separuh dari luasan perkebunan kelapa sawit ini dialokasikan untuk perusahaan perkebunan swasta asing. Pengembangan perkebunan kelapa sawit terutama akan dibangun di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Irian Jaya. Dengan pertambahan luas areal perkebunan kelapa sawit ini, pada awalnya (sebelum krisis ekonomi) diharapkan produksi minyak kelapa sawit Indonesia meningkat menjadi 7,2 juta ton pada tahun 2000 dan 10,6 juta ton pada tahun 2005 (Casson, 2000).

Dalam skripsi ini, sebagai kasus dasar untuk perhitungan analisis valuasi ekonomi
investasi perkebunan kelapa sawit, digunakan data sebagai berikut:
·         Luas perkebunan kelapa sawit 10.000 ha (perkebunan skala besar).
·         Lahan perkebunan kelapa sawit (Hak Guna Usaha) berasal dari hutan konversi.
·         Memiliki pabrik kelapa sawit (PKS), yaitu pabrik pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi CPO dan KPO.
·         Masa produktif tanaman kelapa sawit selama 25 tahun, gestation period 3 tahun.
·         Tingkat produksi:
a)                TBS:20-29 ton/ha (produktifitas rendah sampai tinggi).
b)                Pohon kelapa sawit mulai memproduksi TBS pada tahun ke-4.
c)    Produksi TBS maksimum dicapai pada tahun ke-10 sampai tahun ke-18, dan
mulai mengalami penurunan pada tahun ke-19 dan tingkat ekstraksi TBS menjadi CPO: 24% (maksimum).
d)        Tingkat ekstraksi TBS menjadi KPO:  5% (maksimum).
·      Biaya tanam dan pengolahan (pada kelas lahan produktifitas tinggi)
a)      Investasi tanaman: 1.317 US$/ha.
b)      Pemanenan: 202 US$/ha (tahun produksi maksimum).
c)      Pemeliharaan  120 US$/ha.
d)     Pupuk 248 US$/ha.
e)      Tranportasi  100 US$/ha (tahun produksi maksimum).
f)       Pengolahan TBS 161 US$/ha (tahun produksi maksimum).
g)      Biaya overhead 134 US$/ha (termasuk PBB, pajak lokal dan retribusi).
h)      Depresiasi 329 US$/ha.
·      Harga CPO (c.i.f. Rotterdam): 531,81 US$/ton.
·      International transport cost: 40 US$/ton.
·      Harga CPO (f.o.b. Indonesian port): 491,81 US$/ton.
·      Harga KPO (f.o.b. Indonesian port): 600 US$/ton.
·      Biaya transport CPO/KPO dari lokasi PKS ke pelabuhan ekspor: 5 US$/ton.

Tujuan analisis valuasi ekonomi investasi perkebunan kelapa sawit ini adalah:
1) Memeriksa kelayakan finansial dan kelayakan ekonomi investasi perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu alternatif pilihan penggunaan lahan.
2) Mengidentifikasi dan menilai asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam analisis ekonomi yang dilakukan.
3) Mengevaluasi proses dan dasar pengambilan keputusan investor swasta dalam melakukan investasi perkebunan kelapa sawit.
4)  Membandingkannya dengan proses keputusan yang berdasarkan pertimbangan sosial, ekonomi dan lingkungan, yaitu dengan turut memperhitungkan (internalize) semuabiaya yang terkait dalam investasi perkebunan kelapa sawit, termasuk biaya lingkungan dan biaya sosial.

C.    ANALISIS KEUANGAN PADA USAHA BUDIDAYA JAMUR MERANG
Dalam keputusan untuk melakukan investasi  yang menyangkut sejumlah besar dana dengan harapan mendapatkan keuntungan bertahun tahun dalam jangka panjang, seringkali berdampak besar bagi kelangsungan suatu usaha. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan jadi layaknya suatu investasi atau kelayakan rencana usaha, salah satu syarat terpenting adalah mengkaji aspek financial dan ekonomi. (Soeharto, 1999)
Pada hakikatnya, melalui penilaian proyek dapat ditarik 2 kesimpulan. Pertama, melalui evaluasi proyek kita dapat mengetahui benefit netto suatu peluang investasi marginal. Jika suatu proyek menghasilkan benefit netto yang lebih besar daripada benefit netto proyek marginal, pelaksanaanya dapat disetujui sebaliknya jika lebih kecil, pelaksanaannya seharusnya ditolak. Kedua, melalui investasi proyek dapat menentukan urutan berbagai proyek dalam serangkaian peluang investasi yang lebih baik daripada proyek marginal sedemikian rupa sehingga proyek yang akan menghasilkan benefit yang lebih besar terletak pada urutan paling atas dalam susunan proyek. (Khotimah, 2002)
Dengan melihat pengalaman usaha budi daya jamur merang yang telah dilakukan oleh beberapa petani jamur merang di berbagai daerah, ternyata usaha agribisnis jamur merang ini merupakan salah satu usaha yang patut dikembangkan dan dijadikan sebagai inspirasi masyarakat untuk membuka usaha baru. Terdapat beberapa metode/criteria dalam penentuan usaha dan investasi dalam usaha budi daya jamur merang yang akan disampaikan seperti di bawah ini.
Sebelum memutuskan untuk melakukan usaha agribisnis jamur merang perlu adanya analisis dan perkiraan biaya yang akan dikeluarkan dalam usaha tersebut. Analisis biaya yang disajikan dalam usaha agribisnis jamur merang ini adalah untuk budi daya jamur merang dalam kumbung yang terbuat dari rangka bambu dan dinding bilik. Masa pakai kumbung dan alat pendukungnya adalah 3 tahun. Dengan kata lain, penyusutan (depresiasi) atas modal tetap adalah 3 tahun. Ukuran kumbung adalah 6 m x 4 m. Kumbung ini berisi 10 rak disusun dalam 2 baris dan masing-masing baris terdiri 5 tingkat rak bedengan. Jumlah produksi jamur merang selama setahun adalah ±24 kuintal (2 kuintal/bulan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar